Senin, 19 Desember 2011

askep hidrosepalus

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kita mengenal Hidrosephalus sebagai suatu kelainan yang biasanya terjadi pada bayi, dan ditandai dengan membesarnya kepala melebihi ukuran normal. Dalam keadaan normal, tubuh memproduksi cairan otak Cairan Serebro Spinal ( CSS ) dalam jumlah tertentu, untuk kemudian didistribusikan dalam ruang-ruang ventrikel otak, sampai akhirnya diserap kembali. Dalam keadaan dimana terdapat ketidakseimbangan antara produksi dan penyerapan kembali, terjadi penumpukan cairan otak di ventrikel.
Insidensi hidrosephalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi hidrosephalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11%-43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrosephalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis.
Hidrosephalus infantil adalah 46% adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior. Mengingat dampak dan gejala sisa yang ditimbulkan penyakit hidrosephalus yaitu berupa gangguan neurologis serta kecerdasan, mengalami retardasi mental sekitar 16% dari klien yang ditangani bahkan 7% penderita tidak dapat diselamatkan. Maka perlu kiranya klien dengan hidrosephalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidispliner. Berkaitan dengan uraian diatas maka dalam makalah ini penulis menguraikan beberapa masalah hidrosephalus secara teoritis serta usaha pencegahan dan penanganan terutama berkaitan dengan tindakan keperawatan dan menyangkut satu masalah yang paling menonjol sehingga muncul satu diagnosa keperawatan
B.     Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini akan membahas tentang Asuhan Keperwatan pada pasien hidrosephlus yang mencakup sebagai berikut:
Bagaimana konsep dasar dari hidrhlus yang mencakup sebagai berikut:
1.      Bagaimana konsep dasar dari hidrosephalus?
2.      Bagaimana konsep dasar asuhan keperawatan pasien dengan hidrosephalus?

C.     Tujuan
a.       Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan hidrosephalus dan dapat merancang berbagai cara untuk mengantisipasi masalah serta dapat melakukan asuhan pada kasus hidrosephalus.
b.      Tujuan Khusus
1.      Melakukan pengkajian pada bayi dengan hidrosephalus
2.      Menentukan diagnosa, masalah serta kebutuhan dari data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
3.      Menentukan antisipasi terhadap diagnosa dan masalah potensial yang ditemukan pada bayi dengan hidrosephalus
4.      Melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosephalus
5.      Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada bayi berdasarkan interpretasi data yang yang ditentukan
6.      Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan secara sistematis kepada bai dengan hidrosephalus
7.      Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan kepada bayi dengan hidrosephalus


BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Pengertian
Hidrosephalus istilah yang berasal dari bahasa yunani "hidro" yang berarti air dan "sephalus" yang berarti kepala  sehingga kondisi ini sering dikenal dengan kepala air , jadi hedrosephalus  adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak  cairan serebrospinal atau akumulasi cairan serebrospinal (CSF ) dalam ventrikel serebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural. Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
Cairan serebrospinalis adalah cairan jernih yang mengisi ruang subarachnoid. Cairan serebrospinalis juga terdapat dalam system ventrikel dan medulla spinalis. Seluruh ruang yang melingkupi otak dan medulla spinalis memiliki volume kira-kira 1600 sampai 1700 ml dan sekitar 150 ml dari volume ini ditempati oleh cairan serebrospinalis dan sisanya oleh otak dan medulla. Dari 150 ml ini, 125 ml di intracranial. Ventrikel mengandung 25 ml ( sebagian besar di ventrikel lateral ) dan 100 ml sisanya di ruang subarachnoid yang mengelilingi otak dan medulla spinalis
Fungsi utama cairan serebrospinalis adalah untuk melindungi otak dalam kubahnya yang padat. Otak dan cairan serebrospinalis memiliki gaya berat spesifik yang kurang lebih sama ( hanya berbeda sekitar 4% ), sehingga otak terapung dalam liquor. Oleh karena itu, benturan pada kepala yang tidak terlalu keras akan menggerakkan seluruh otak dan tengkorak secara serentak menyebabkan tidak satu bagian pun dari otak yang berubah bentuk akibat adanya benturan tersebut.
Menurut para ahli hidrosepalus didefinisikan antara lain :
a.       Depkes RI,1989
Hidosephalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinal dengan adanya tekanan intrakranial (TIK) yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengeluarkan liquor.
b.      Setyanegara, 1998
Hidrosephalus adalah kelebihan cairan cerebrospinalis di dalam kepala. Biasanya di dalam sistem ventrikel atau gangguan hidrodinamik cairan liguor sehingga menimbulkan peningkatan volume intravertikel.
c.       Ngastiyah, 1997
Hidrosephalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan cerebrospinalis di dalam kepala (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial yang meninggi sehingga terdapat ruangan tempat mengalirnya CSS.
d.      Ricard dan victor, 1992
Hidrosephalus adalah suatu kondisi dimana terjadi pembesaran sistem ventrikular akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absorbsi cairan cerebrospinal (CSF: Cerebrospinal Fluid).

B.     Klasifikaasi
a.       Hidrosephalus Non komunikasi (non
 kommunicating hydrocephalus atau hidrosephalus obstruksi )
Biasanya diakibatkan obstruksi dalam system ventrikuler yang mencegah bersikulasinya CSF. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang  lanjut usia yang berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi lesi pada system ventricular atau bentukan jaringan adhesi atau bekas luka didalam sistem. Pada klien dengan garis sutura yang berfungsi atau pada anak – anak dibawah usia 12 – 18 bulan dengan tekanan intracranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda – tanda dan gejala – gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak – anak yang garis suturanya tidak bergabung terdapat pemisahan atau separasi garis sutura dan pembesaran kepala. Peningkatan tekanan CSS disebabkan oleh obstruksi pad salah satu pembentukan CSS oleh pleksus koroidalis dan keluarga dari ventrike IV melalui foramen luscha dan magendie.
b.      Hidrosephalus Komunikasi (Kommunicating hidrocepalus).
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSF tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSF terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional. Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP).
c.       Hidrosephalus Bertekan Normal (Normal Pressure Hidrocephalus).
Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal, gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (kelompok umur 60 – 70 tahun) ada kemingkinan ditemukan hubungan tersebut. ( FKUI, 1985 )
C.     Etiologi
Hidrosephalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering terdapat pada bayi dan anak ialah :
1.      Kongenital disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim, atau infeksi intrauterine meliputi :
a.       Stenosis aquaductus sylvi
Merupakan penyebab yang gterbanyak pada hidrosephalus pada bayi dan anak. Umumnya gejalanya terlihat sejak lahir atau progesif dengan cepat pada bulan – bulan pertama setelah lahir.
b.      Spina bifida dan kranium bifida
Hidrosephalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom amold-chiari akibat tertariknya madula spinal dengan medula oblongata dan serebulum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadinya penyumbatan sebagian atau total.
c.       Syndrom Dandy-Walker
Merupakan atresia kongenital foramen luschka dan megendie dengan akibat hidrosephalus obstruktif dengan pelebaran sistem ventrikel terutama ventrikel IV yang dapat sedemikin besarnya hingga merupakan suatu kista yang besar didaerah fosa posterior.
d.      Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah
Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul karena trauma sekunder hematoma. Anomalia terjadi hidrosephalus akibat aneurisma arterio vena yang mengenai arteria serebalis posterior dengn vena galeni atau sinus transversus dengan akibat obstruksi akuaduktus.

2.      Hidrosephalus didapat disebabkan oleh infeksi, neoplasma, atau perdarahan
a.       Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah toksoplasmosis.
b.      Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
c.       Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjakdi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
( FKUI, 1985 )

D.    Patofisiologi
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan subarachnoid, ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan.
 Proses dilatasi itu dapat merupakan proses yang tiba – tiba  akut dan dapat juga selektif tergantung pada kedudukan penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus emergency. Pada bayi dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi peningkatan massa cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan mengembang dan terasa tegang pada perabaan.Stenosis aquaductal ( Penyakit keluarga atau keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada ventrikel laterasl dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow). Syndroma dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar pada ventrikel IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol memenuhi sebagian besar  ruang dibawah tentorium. Klein dengan type hidrosephalus diatas akan mengalami pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga membatasi ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala Kenailkan ICP sebelum ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam absorbsi dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak komplit. CSF melebihi kapasitas normal sistim ventrikel tiap 6 – 8 jam dan ketiadaan absorbsi total akan menyebabkan kematian.
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma normal yang pada didning rongga memungkinkan  kenaikan absorpsi. Jika route kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi.




E.     Manifestasi Klinis dan Tanda Gejala
1.      Bayi ;
a.       Kepala menjadi makin besar dan akan terlihat pada umur 3 tahun.
b.      Keterlambatan penutupan fontanela anterior, sehingga fontanela menjadi tegang, keras, sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
c.       Tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial;
·         Muntah
·         Gelisah
·         Menangis dengan suara ringi
·         Peningkatan sistole pada tekanan darah, penurunan nadi, peningkatan pernafasan dan tidak teratur, perubahan pupil, lethargi – stupor.
d.      Peningkatan tonus otot ekstrimitas
e.       Tanda – tanda fisik lainnya ;
·         Dahi menonjol bersinar atau mengkilat dan pembuluh – pembuluh darah terlihat jelas.
·         Alis mata dan bulu mata ke atas, sehingga sclera telihat seolah – olah di atas iris.
·         Bayi tidak dapat melihat ke atas, “sunset eyes”
·         Strabismus, nystagmus, atropi optik.
·         Bayi sulit mengangkat dan menahan kepalanya ke atas.

2.      Anak yang telah menutup suturanya ;
Tanda – tanda peningkatan tekanan intrakranial :
a.       Nyeri kepala
b.      Muntah
c.       Lethargi, lelah, apatis, perubahan personalitas
d.      Ketegangan dari sutura cranial dapat terlihat pada anak berumur 10 tahun.
e.       Penglihatan ganda, kontruksi penglihatan perifer
f.       Strabismus
g.      Perubahan pupil.

F.      Komplikasi
1.      Peningkatan tekanan intrakranial
2.      Kerusakan otak
3.      Infeksi nefritis, meningitis,ventrikulitis, abes otak.
4.      Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
5.      Hematomi subdural, peritonitis,abses abdomen.
6.      Kematian
( Hellen Brough, 2007 )
G.    Pemeriksaan  Penunjang
1.      Skan temograsfi komputer ( CT-Scan) mempertegas adanya dilatasi ventrikel dan membantui dalam memgidentifikasi kemungkinan penyebabnya karena (neoplasma, kista, malformasi konginetal atau perdarahan intra kranial).
2.      Fungsi ventrikel kadang digunakan untiuk menukur tekanan intra kranial menghilangkan cairan serebrospinal untuk kultur (aturan ditentukan untuk pengulangan pengaliran).
3.      EEG : untuk mengetahui kelainan genetik atau metabolik.
4.      Transluminasi : Untuk mengetahui apakah adanya kelainan dalam kepala.
5.      MRI : ( Magnetik resonance imaging ) : memberi informasi mengenai stuktur otak tanpa kena radiasi.
( Ngastiyah, 2005 )

H.    Penatalaksanaan
1.      Terapi Medikamentosa
Hidrosephalus dewngan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid dengan dosis 25 – 50 mg/kg BB. Pada keadaan akut dapat diberikan menitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan meskipun hasilnya kurang memuaskan. Pembarian diamox atau furocemide juga dapat diberikan. Tanpa pengobatan  pada kasus didapat dapat sembuh spontan ± 40 – 50 % kasus.
2.       Pembedahan
Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan tempat absorbsi. Misalnya Cysternostomy pada stenosis aquadustus. Dengan pembedahan juga dapat mengeluarkan LCS kedalam rongga cranial yang disebut :
a. Ventrikulo Peritorial Shunt
b. Ventrikulo Adrial Shunt
Untuk pemasangan shunt yang penting adalajh memberikan pengertian pada keluarga mengenai penyakit dan alat-alat yang harus disiapkan (misalnya: kateter shunt obat-obatan darah) yang biasanya membutuhkan biaya besar. Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan serebrospinal dari ventrikel otak ke atrium kanan atau ke rongga peritoneum yaitu pi8ntasan ventrikuloatrial atau ventrikuloperitonial. Pintasan terbuat dari bahan bahansilikon khusus, yang tidak menimbulkan raksi radang atau penolakan, sehingga dapat ditinggalkan di dalam yubuh untuk selamanya. Penyulit terjadi pada 40-50%, terutama berupa infeksi, obstruksi, atau dislokasi.
3.      Operasi pintas
Bertujuan mambuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. baisanya cairan ceebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang ada hidrosefalus komunikans ada yang didrain rongga subarakhnoid lumbar. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan. kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian.
( Ngastiyah, 2005 )



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
1.      Neurologis
-        Pergeseran sutura tengkorak
-        Pembengkakan sepanjang saluran pirau
-        Menangis dengan nada tinggi
-        Ubub – ubun menonjol
-        Tonjolan vena dikulit kepala
-        Iritabilitas saat bangun
-        Bertambahnya lingkaran frontal – oksipital
-        Mata terbenam
2.      Gastrointestinal
-        Muntah
-        Perubahan nafsu makan
3.      Muskuloskeletal
-        Letergi
-        Spastisitas ekstremitas bawah
4.      Aktivitas
-        Lemah
-        Menangis
-        Penurunan kekuatan
5.      Nyeri atau kenyamanan
-        Nyeri kepala
6.      Sirkulasi
-        Penaikan sistol
-        Penurunan nadi
7.      Pernafasan
-        Peningkatan kekuatan
B.     Diagnosa
a.       Potensial terhadap perubahan integritas kulit kepala b/d ketidak mampuan bayi dalam mengerakan kepala akibata peningkatan ukuran dan berat kepala
v  Kriteria hasil :
Tidak terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria kulit utuh, bersih dan kering.
v  Intervensi / Rasionalnya :
·         Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap area yang tertekan.
R/: Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.
·         Ubah posisi tiap 2 jam dapat dipertimbangkan untuk mengubaha kepala tiap jam.
R/ : Untuk meningkatkan sirkulasi kulit
·         Hindari tidak adanya linen pada tempat tidur
R/ : Linen dapat menyerap keringat sehingga kulit tetap kering
·          Baringkan kepala pada bantal karet busa atau menggunakan tempat tidur air jika mungkin.
R/ : Untuk mengurangi tekanan yang menyebabkan stres mekanik.
·         Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
R/ : Jaringan akan mudah nekrosis bila kalori dan protein kurang
b.      Perubahan fungsi keluarga berhubungan dengan situasi krisis ( anak dalam cacat fisik )
v  Kriteria hasil :
Keluarga menerima keadaan anaknya, mampu menjelaskan keadaan penderita dengan berpartisipasi dalam merawat anaknya dan secara verbal keluarga dapat mengerti tentang penyakit anaknya.
v  Intervensi / Rasionalnya :
·         Jelaskan secara rinci tentang kondisi penderita, prosedur, terapi dan prognosanya.
R/ : Pengetahuan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita.
·         Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti
R/ : Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi
·         Klarifikasi kesalahan asumsi dan misskonsepsi
R/ : Untuk menghindari salah persepsi, kesalah pahaman terhadap penyakit anaknya.
·         Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya.
R/: Keluarga dapat mengemukakan perasaannya, cara penyelesaiannya.
c.       Resiko infeksi yang berhubungan dengan proses pembedahan untuk pemasangan pirau
v  Kriteria hasil : anak akan menunjukan tidak ada infeksi karena penempatan pirau yang ditandai oleh suhu tubuh kurang dari 37,8oC dan tidak ada tanda pembengkakan pada luka insisi atau tidak ada drainase, iritabilitas.
v  Intervensi / Rasionalnya :
·         Pantau suhu tubuh anak setiap 4jam
R/ : Penurunan suhu tubuh merupakan tanda awal infeksi pada neonatus dan peningkatan suhu tubuh merupakan tanda awal infeksi pada anak.
·         Kaji area insisi setiap 4 jam, pantau drainase cairan atau pembengkakan.
R/ : pembengkakan disekitar pompa saluran pirau atau insisi pembedahan dengan tanpa drenase mungkin merupakan tanda awal infeksi karena pirau.
·         Posisikan kepala anak sehingga beban berat tidak dikonsentrasikan kesisi katup 24-48 jam pertama setelah pembedahan.
·         R/ : memosikan kepala dengan cara mencegah kerusakan kulit pad sekitar pompa pirau sehingga menghilangka resiko terhadap infeksi. Pada neonatus yang merupakan kelompok khusus yang rentan pada infeksi karena pemasangan pirau dengan waktu lama.
d.      Resiko cidera yang berhubungan dengan kejang.
v  Kriteria hasil : anak tidak akan mengalami cidera sebagai akibat kejang.
v  Intervinsi / Rasionalny :
·         Tentukan apakah anak mengalami riwayat kejang
R/ : Kejang terjadi diatas 40% jumlah anak dalam 2 tahun setelah pemasangan pirau
·         Lakukan pencegahan kejang pada anak dengan TIK atau malfungsi pirau, dengan alat pengisapan lendir.
R/ : Kejang merupakan tanda lanjut peningkatan TIK, kewaspadaan kejang diperlukan untuk mencegah cidera pada anak.
e.       Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan gangguan status nutrisi saat prabedah dan pascabedah.
v  Kriteria hasil : anak akan mendemontrasikan tidak ada dehidrasi yang ditandai dengan berat badan stabil, turgor kulit baik, kadar elektrolit stabil, air mata dalam jumlah cukup, membran mukosa lembab, haluaran uein 1 sampai 2 ml/kg/jam.

v  Intervensi / Rasionalnya :
·         Pantau asuapan dan haluaran cairan secara teliti
R/ : Pemantauan kehilangan cairan secara teliti mandeteksi kehilangan cairan.
·         Pantau kadar elektrolit serum pada anak setiap hari jika muntah terjadi, berikan perhatian dengan seksama pada kadar natrium dan kalium.
R/ : Kehilangan natrium, kalium dan elektrolit lainnya dalam jumlah besar dapat terjadi sebagai akibat muntah.
·         Berikan nutrisi parental sesuai saran dan pantau pemberiannya setiap  jam.
R/: Pemberian cairan parental akan membantu mengembalikan jumlah cairan secara normal serta keseimbangan erektrolit.
f.       Resti gangguan neorologis berhubungan dengan mata sulit menutup
v  Kriteria hasil : anak dapat dengan mudah menutup pupilnya.
v  Intervensi / R :
·         Kurangi kelebihan cairan serebrospinal pada anak
R/ : pengalihan CSS secara baik dapat mengurangi udim pada saraf pupil olfaktorius.
g.      Nyeri
v  Kriteria hasil: anak tidak menunjukan nyeri
v  Intervensi / R :
·         Ubah posisi anak setiap jam
R/ : supaya tidak ada dekubitus
·         Pantau jahitan pirau setelah pembedahan
R/ : Supaya tidak terjadi resiko infeks

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Hedrosephalus  merupakan penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak  cairan serebrospinal atau akumulasi cairan serebrospinal (CSF ) dalam ventrikel serebral, ruang subarachnoid, atau ruang subdural. Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
Komplikasi
1.      Peningkatan tekanan intrakranial
2.      Kerusakan otak
3.      Infeksi nefritis, meningitis,ventrikulitis, abes otak.
4.      Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
5.      Hematomi subdural, peritonitis,abses abdomen.
6.      Kematian

B.     Saran
Diharapkan kepada orang tua yang mendapatkan anak dengan kasus hidrosefalus untuk tidak berkecil hati karena ada masih ada cara pengobatan yang dapat dilakukan. Pengobatan tersebut dapat membantu anak tersebut untuk proses tumbuh kembangnya dikemudian hari.
Bagi petugas kesehatan diharapkan dapat melakukan penatalaksanaan dan asuhan yang adekuat dan hati-hati untuk mencegah terjadinya infeksi sehingga dapat menurunkan angka kematian pada bayi.




DAFTAR PUSTAKA

Speer Kathbleen Morgan. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Donna L. Wong. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar